Kabar Terkini

Kamis, 30 September 2010

Peran Guru


Peran Guru Spiritual dan Supranatural



Memang harus diakui belajar ilmu spiritual & supranatural membutuhkan kesabaran dan keuletan. Salah satu kunci suksesnya adalah Peran Guru dan Istiqomah.

PERAN SEORANG GURU

Seorang guru memiliki peran yang sangat penting. Kita tahu bahwa ilmu ghaib bukan seperti ilmu nalar seperti dibangku sekolah yang cukup dipahami dan dimengerti.
Namun ilmu ghaib suatu ilmu yang berbeda, ilmu ghaib tidak cukup hanya dimengerti dan dipahami oleh akal pikiran (olah pikir). Tetapi juga harus bisa merasakan (olah rasa). Disinilah peran seorang guru bisa memberikan petunjuk agar kita mampu memahami dan merasakan segala efek khasiatnya.

Mempelajari Ilmu ghaib berhubungan dengan dunia batin dan ghaib. Segala sesuatunya masih samar bagi kita, jadi perlu pembimbing yang bisa menuntun agar tidak tersesat. Tidak merusak akidah kepada Tuhan YME. Bahkan nabi Muhammad SAW mengingatkan: “barang siapa yang belajar ilmu hikmah (spiritual) tanpa guru, berarti ia telah menunjuk setan menjadi Gurunya”. Sebab yang ingin diraih dari belajar ilmu ghaib bukan sekedar sakti atau kebal, tapi bisa mengenal Diri yang Sejati. Pondasi penting untuk menelusuri Sangkan Paraning Dumadi.

Belajar ilmu spiritual tanpa guru adalah bentuk Kesombongan dan Keangkuhan. Nafsu tersembunyi. Harus diwaspadai. Tengoklah para guru, alim ulama, para syekh, mursyid, para Nabi dan Rasul. Semua dibimbing oleh seorang guru.

Nabi Muhammad SAW dituntun Allah SWT melalui Malaikat Jibril. Nabi Musa as dibimbing oleh Nabi Khidir as. Para sahabat dibimbing oleh Nabi SAW. Para WaliAllah dibimbing oleh Guru-guru spiritual pendahulunya, contohnya (walisonggo) Sunan Kalijaga dibimbing oleh Sunan Bonang. Sunan Bonang pun dibimbing oleh Guru sebelumnya. Syech Ibn Qoyyim Al Jauziyah berguru kepada Syaikhul Islam Ibn Taimiyah selama 16 tahun. Masih banyak contoh yang lain. Mereka semua bisa mencapai derajat spiritual yang tinggi seperti itu, tak pernah lepas dari bimbingan seorang Guru.

Jadi diri kita yang masih awam ini, mau membuka hijab keghaibanNYA dan mencapai derajat spiritual yang tinggi tanpa seorang Guru?? Naif sekali, jawabnya.
Dengan didampingi seorang Guru, ilmu menjadi lebih cepat dikuasai. Segala kendala yang terjadi selama belajar ilmu bisa dicarikan solusinya. Maka carilah guru yang benar-benar telah menguasai ilmu yang diijazahkannya.

Istilah “gila karena belajar ilmu ghaib” itu sebenarnya disebabkan karena selalu gagal belajar ilmu ghaib. Lalu otak tidak bisa lagi membedakan antara kenyataan dan imajinasi. Merasa sering diberi wangsit (bisikan ghaib) padahal kenyataannya sedang menuruti bisikan hawa nafsu sendiri. Lama-lama jadi terganggu syaraf pikirannya (stress/gila).

Oleh karena itu jika ingin belajar ilmu hikmah & keghaiban carilah seorang guru yang bisa memberi petunjuk dan membimbing jalan spiritual kita. Perkembangan jaman dan teknologi telah memberi berbagai kemudahan. Bisa belajar secara online, tanpa bertatap muka. Yang penting tetap dibimbing dengan baik dan benar. Semoga jalan spiritual anda lebih terbuka lebar.

AMALKAN ILMU DENGAN ISTIQOMAH

Setelah mendapatkan guru, kemudian amalkanlah tuntunan ilmunya dengan istiqomah. Milyaran ilmu dihamparkan Tuhan YME di alam ini. Tengoklah saja di internet, betapa banyak ilmu ghaib yang sudah dijabarkan para Guru. Apakah harus mempelajari semua? Tentu saja tidak. Amalkan satu atau dua ilmu saja yang paling tepat untuk diamalkan. Kemudian dawam-kan amalan tersebut dengan istiqomah.

Mengamalkan satu ilmu dengan istiqomah adalah lebih baik daripada punya banyak ilmu tapi tidak istiqomah, atau bahkan tidak pernah diamalkan sama sekali. Jangan takut dengan orang yang seakan-akan memiliki banyak ilmu, tahu ilmu ini – ilmu itu. Tapi waspadalah kepada orang yang telah menguasai 1 ilmu dengan sempurna.

Ada sebuah pengalaman, ketika remaja saya pernah belajar kepada seorang sesepuh, beliau hanyalah orang desa, tidak punya pendidikan formal, tidak bisa baca tulis Arab Quran, apalagi menghafal hizib, ratib dan Asma. Bekalnya dalam membantu orang yang kesusahan dan menaklukan alam hanya dengan 1 mantera Jawa yang ia sering hafalkan sejak remaja. Bahkan isi manteranya adalah mantera keselamatan ketika perang menghadapi para penjajah. Tapi bila ada pasien dengan keluhan apa saja, mulai dari kesehatan sampai susah rejeki, yang ia baca Cuma mantera itu saja. Kenyataannya tetap terbukti mustajab (berhasil).

Tidak ada ilmu hikmah yang lebih hebat dari ilmu hikmah yang lainnya, bila tidak diamalkan dengan tekun / istiqomah.

Terkadang kita lebih sering diperbudak nafsu, terus mengejar dan mencari semua ilmu, setiap hari surfing di internet, tekan copy-paste & refresh (F5) berharap ada posting ilmu-ilmu yang baru. Tetapi malah terlena, lupa untuk mengamalkannya dengan sungguh-sungguh. Hari berganti hari, usia semakin bertambah, raga sudah semakin tua tidak kuat lagi untuk diajak puasa dan tirakat, nikmat sehat berganti sakit. Akhirnya tidak ada satupun ilmu yang dikuasai sampai menjelang akhir perjalanan hidup.

Maka selagi kita masih diberikan nikmat sehat dan kelapangan, segeralah amalkan ilmu. Jika ada kendala, konsultasilah kepada sang pengijazah. Semoga ilmu yang anda amalkan dengan istiqomah bermanfaat saat dibutuhkan hingga akhir hayat kelak.

Kamis, 23 September 2010

SYECH YUSUF AL MAKASSARI TOKOH ULAMA TASAWUF DAN PEJUANG


SYECH YUSUF AL MAKASSARI TOKOH ULAMA TASAWUF DAN PEJUANG


sekh-yusuf

Cikal bakal pendekar pendekar Banten yang terkenal sakti tak lepas dari upaya Syech Yusuf al makasari. Ulama kelahiran Bugis Makasar ini lama menetap di Banten dan menjadi Kaki tangan Sultan Ageng Tirtayasa berjuang bersama dalam mensyiarkan Islam dan melawan Penjajahan belanda. Sekitar tahun 1670 sekembalinya dari timur tengah Syech Yusuf al makasari tinggal di banten dan menikah dengan Putri Sultan Ageng Tirtayasa. Kedalaman ilmu yang dimiliki Syeck Yusuf menjadikan Beliu begitu cepat terkenal dan menjadikan Banten sebagai Pusat pendidikan Islam. Banyak Murid murid yang berdatangan dari berbagai penjuru negri untuk belajar kepada Syech Yusuf . Disamping mengajarkan tentang ilmu-ilmu syariat beliau juga mengajarkan ilmu beladiri untuk berjuang bersama melawan penjajah Belanda.

Putra Bugis sulawesi lahir di tallo 13 jui 1627 ,Ayahnya bernama Abdulloh dan ibunya bernama Aminah, sejak kecil di didik dalam lingkungan yang islami belajar kepada ulama-ulama setempat namun yang menarik perhatiaannya adalah kecintaannya untuk memperdalam ilmu tasawuf. Menginjak remaja beliau belajar kepada seorang ulama terkenal di Makasar bernama Syech Jalaludin al aidit. Tahun 1644 Syech yusuf dengan menumpang kapal melayu belayar menuju Timur tengah untuk memperdalam ilmu-ilmu agama. Di Damaskus beliau berguru kepada Syech Abu al barkah dan gurunya tersebut yang memberi nama syech yusup dengan “Al makasari” serta memberikan ijazah Tarekat Khalwati kepadanya. DI samping belajar syech yusul al makasri juga mengajar di Mekkah kepada santri-santri yang berasal dari indonesia . Konsep tasawuf yang di ajarkan Syech Yusuf tentang Pemurnian kepercayaan pada keesaan Tuhan sangat menarik minat pelajar-pelajar yang berada di Mekkah . Menurut Syech Yusuf bahwa Tauhid adalah komponen penting dalam ajaran Islam maka bagi yang tidak percaya tentang tauhid dikategorikan sebagai kafir. Hakekat Tuhan sendiri menurut Syech Yusuf adalah kesatuan dari sifat-sifat yang saling bertentangan dan tak seorangpun dapat memahami Sirr ( rahasia) kecuali mereka yang telah di beri Kasyaf oleh Tuhan. Beliau menegaskan bahwa seseorang yang mengamalkan Syariat itu lebih baik daripada orang yang mengamalkan Tasawuf tapi mengabaikan ajaran Hukum Islam.

Selama Menetap di banten Syech Yusuf al makassari menjabat sebagai Penasehat Spritual Sultan Ageng Tirtayasa, pengaruhnya terhadap masyarakat banten untuk melawan Penjajah Belanda sangat ditakutkan oleh belanda, apalagi Murid -murid Syech yusuf Al makassari terkenal sebagai pendekar pendekar Banten yang kebal terhadap Senjata membuat Pasukan Belanda kalang kabut. Maka tehnik licik belandapun dilakukannya dengan memecah belah serta mengadu domba terhadap keluarga Sultan. Hasutan-hasutan Belanda terhadap putra Sultan Ageng tirtayasa yang bernama Sultan Haji rupanya telah berhasil. Dengan dukungan militer Belanda Sultan Haji Putra Sultan Ageng bertempur dengan Ayahnya Sendiri Sultan Ageng Tirtayasa. Dalam pertempuran tersebut Syech Yusuf di tawan Belanda dan diasingkan ke Pulau Ceylon ( srilangka) . Di pengasingannya beliu bertemu dengan Ulama Sri langkah bernama Syech Ibrahim bin mi’an dan sering mengadakan diskusi kegamaan dan majlis ta’lim . Pembahasan tentang konsep Tasawuf yang diajarkan oleh Syech Yusuf sangat menarik minta para ulama serta jama’ah setempat dan mereka meminta kepada Syech Yusuf untuk membuat sebuah Kitab tentang Tasawuf. Dan Syech yusufpun akhirnya mengarang Kitab tentang Konsep tawasuf yang berjudul “kaypiyyah At tasawuf”. Rupanya Belanda tak mau kecolongan lagi dengan pengaruh – pengaruh Syech Yusuf sehingga Syech yusufpun kembali di asingkan ke Afrika Selatan sampai akhir hayatnya. Syech yusuf al makassari wafat tahun 1699 dalam usia 72 tahun dan di makamkan di Afrika selatan. Dan yang menarik adalah sekitar tahun 1705 kerangka Syech yusuf Al makassari yang di makamkan di afrika selatan di pindahkan oleh murid-murid beliau ke Tanah kelahirannya di Sulawesi selatan.

CINTANYA ROSULULLOH SAW KEPADA SAHABAT

CINTANYA ROSULULLOH SAW KEPADA SAHABAT


Suatu ketika rosululloh berkumpul dengan para sahabat, namun ada salah seorang Sahabat nabi yang selalu meyembunyikan tangannya ketika berhadapan dengan rosululloh SAW. Hal tersebut terasa aneh, maka rosululloh SAW menegur sahabat tersebut yang menyembunyikan tangannya. “Kenapa kau selalu menyembunyikan tanganmu ketika berhadapan dengan ku…? ” kata Rosululloh.”saya malu Ya rosullulloh….Saya seorang tukang Kayu , tanganku ini kasar dan tidak halus seperti tanganmu dan para sahabat lainnya” Jawab Sahabat. Lalu rosululloh Saw memegang tangan sahabat tersebut lalu menciumnya dengan penuh Cinta. “Justru tangan ini yang akan menyelamatkanmu dari jiltan api neraka ” Kata rosululloh SAW. Sahabat itupun terharu betapa rosululloh seorang Nabi , pemimpin Umat mau mencium tangan seorang tukang kayu.Subhanalloh…betapa mulia akhlak Rosululloh saw

KISAH KHALIFAH HISYAM BIN ABDUL MALIK DAN SEORANG ULAMA

KISAH KHALIFAH HISYAM BIN ABDUL MALIK DAN SEORANG ULAMA


Nama Hisyam bin abdul malik sangat di takuti oleh para pemimpin-pemimpin Barat kususnya Eropa. Khalifah kesepuluh dari Bani Umayyah hampir 20 tahun memimpim dan sering melakukan perluasan kekuasaan sampai ke Eropa dan Romawi.

Ketika masih menjabat Gubernur Hisyam bin abdul malik melakukan perjalanan Dinas menuju kota Suci Mekkah dengan menggunakan fasilitas Negara . Rombongan dalam jumlah besar temasuk didalamnya para sanak keluarga dan para pengawalnya. Sesampainya di kota Mekkah Gubernur Hisyam bin abdul malik sangat ingin bertemu dengan Sahabat Rosul yang masih hidup, namun sangat di sayangkan Sahabat Rosululloh SAW yang terakhir telah meninggal dunia tak lama Gubernur Hisyam menginjakkan kakinya di Kota Suci Mekkah. Hisyam bin abdul malik terkenal pribadinya yag suka menerima pendapat dam masukan dari para Ulama.

Karena sahabat Rosul yang terakhir telah meninggal ,akhirnya para pengawalnya menghadirkan Sosok Tabi’in ( generasi ulama setelah sahabat ) sebagai gantinya untuk dipertemukan dengan Gubernur Hisyam bin abdul malik.

Tabi’in tersebut bernama Thawus al Yamani, dengan gayanya yang cuek dan santai , Thawus menghadap sang Gubernur di tenda peristirahatannya yang terhampar permadani berwarna merah yang sangat Mewah , Thawus melepaskan sandalnya ketika akan menginjak permadani berwarna merah tersebut , dengan gayanya yang cuek tanpa basa basi , Thawus hanya mengucapkan “Assalamualikum” lalu duduk di sebelah Sang Gubernur sambil berkata “apa kabarmu Hisyam…..??? Memperhatikan tingkah laku Thawus tersebut membuat marah sang Gubernur, Thawus dianggap meremehkan dirinya selaku Gubernur, Pertama Masuk dengan melepas sandalnya dekat permadani merah singgasana Gubernur, Kedua Hanya mengucapkan salam tanpa mengucapkan salam ta’zhim ( salam agung ) kepada seorang Gubernur, Ketiga memanggil namannya tanpa Gelar dan Kunniyah . Gubernur Hisyam bin abdul malik berdiri dan mengacungkan pedangnya ingin menebas leher Thawus yang dianggap telah menghina petinggi kerajaan , Namun Cepat –cepat Thawus mencegahnya “ Sabar Hai Hisyam…..Engkau sedang berada di Tanah suci Alloh , demi tempat yang suci dan mulia ini engkau tidak boleh melakukan hal yang buruk termasuk membunuhku” .Bagaimana aku tidak marah dengan perlakuanmu yang telah menghina seorang gubernur” jawab Hisyam.

Wahai Hisyam , aku lepas sandalku karena aku juga melepas sandalku 5 kali sehari untuk melakukan sholat dan Alloh pun tidak marah dan murka atas perbuatanku mengapa kau sebagai hamba Alloh harus marah ???? Aku tidak mengucapkan salam Tazhim ( salam Agung ) dengan kata kata Amirul mu’minin, karena tidak semua orang senang atas kepemimpinannmu untuk itu aku tidak mau berbohong!!!! Aku memanggil namamu tanpa gelar kebesaran dan Kuniyyah karena para kekasih Alloh di sebut di dalam Alquran di pangil namanya tanpa Gelar seperti Ya Isa, Ya Daud , Ya Ibrohim justru Alloh memanggil Musuh-musuh Alloh dengan sebutan Gelar dan Kuniyyah seperti “Abu Lahab” dan Aku duduk di sampingmu karena aku pernah mendengar Sayyidana Ali pernah berkata “kalau kau ingin melihat Calon penghuni neraka ..maka lihatlah orang yang duduk sementara orang sekitarnya berdiri.

Hisyam yang tadinya Marah mendengar Nasihat Thawus pun menangis dan menyesali atas kesombongannya selama ini. Semenjak kejadian itu Hisyampun menjadi sosok pemimpin yang Tawadhu dan selalu menerima masukan dan kritik dari berbagai pihak. Dan Hisyam selalu minta nasihat dari para ulama agar Dia bias mnenjadi pemimpin yang adil .


HABIB ALI BIN HUSEIN AL ATHOS ( Gurunya ulama – ulama betawi)


Jakarta dengan predikat sebagai kota metropolitan , dengan hingar bingar tempat hiburan dan maksiat yang merajalela. Kalau bukan karena cinta Alloh kepada Ulama dan Habaib yang senantiasa menggelar majlis majlis ilmu dan majlis majlis dzikir Sudah Alloh luluh lantahkan kota jakarta ini . Majlis ilmu dan dzikir yang telah meredam murka Alloh. Ulama dan habaib yang menjadi Paku dan benteng dalam mengajak umat untuk selalu taat terhadap perintah Alloh.

3-habaib

Sekitar tahun 1940 Jakarta atau dulu di sebut Betawi punya Banyak Tokoh ulama dan pejuang dan yang paling menjadi panutan dan memiliki banyak murid yang tersebar di tanah air adalah Habib Ali al habsyi, habib Ali bin husen Al athos dan habib Salim bin Jindan. Trio Ulama tersebut yang dengan gencar memperjuangkan Syiar-syiar agama alloh.

Habib Ali bin Husein Al athos adalah Ulama kelahiran Hadro maut terkenal dengan julukan Habib Ali Bungur. Lahir di Huroidhah 1 muharam 1309 H atau bertepatan 1889 M . Nama lengkap beliau Al-Habib Ali bin Husein bin Muhammad bin Husein bin Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husein bin Al-Imam Al-Qutub Al-Habib Umar bin Abdurrahman Al-Attas. Sejak kecil habib ali belajar kepada para ulama – ulama Setempat , sejak dulu sampai saat ini kota Hadro maut gudangnya para ulama dan auliya, bahkan salah seorang ulama di Jawa timur bahwa tukang sapu ditarim banyak berpredikat sebagai Wali, itu baru tukang sapunya bagaimana dengan Ulamanya. Setelah sekian lama belajar di kotanya Habib ali melakukan pengembaraan ke kota suci mekkah untuk bejalar sekaligus menunaikan ibadah haji. Di Mekkah habib ali mempergunakan waktunya untuk belajar kepada para ulama setempat . Kurang lebih 4 tahun lamanya beliau di Mekkah akhirnya sekitar tahun 1916 Habib Ali melakukan dakwah ke berbagai negara hingga akhirnya Beliau Singgah dan menetap di Jakarta . Di samping melakukan Dakwah di Jakarta Habib Ali juga tak segan segan untuk belajar dan mengambil Tabaruk dari Para ulama -ulama Sepuh di tanah air, Seperti habib Muhammad al muhdhor (bondowoso ), Habib Abdullohbin Muhsin Al athos ( Bogor).

habib-ali-binj-husein-al-athosPergolakan politik di tanah air memicu juga semangat Habib Ali Bungur untuk mengobarkan semangat Jihad melawan penjajah dan komunis yang telah cukup lama membuat bangsa indonesia menderita belum lagi para penjajah melakukan Misi menyebarkan Agama Nasrani dengan melakukan tebar pesona dan simpatik agar rakyat yang telah menderita mau mengikuti agamanya . Belum lagi muncul nya aliran Komunis anti Tuhan ( atheis ) yang bernaung di bawah partai PKI Hal inilah yang membuat Habib Ali bungur dan Para Ulama ulama betawi lainnya berusaha sekuat tenaga menjaga Aqidah umat Islam agar mereka terbentengi dan tetap teguh memegang ajaran Islam yang sebenarnya.

Habib Ali bungur sosok ulama yang tawadhu dan konsisten dalam menjalankan ajaran agama, Wibawa dan pengaruh beliau sangat besar dalam perkembangan islam di Betawi, beliau tak segan segan menegur pejabat dan aparat pemerintahan yang singgah kerumahnya untuk lebih mencintai warganya. Kehidupannya sangat sederhana tak silau dengan gemerlap dunia. Walaupun demikian beliau menganjurkan agar Rakyat hidup berkecukupan dan tidak menderita.

Salah seorang ulama dan pengasuh Pon -pes Darul Hadist Al faqihiyyah malang Al marhum Al habib Abdulloh bil Faqih pernah mengatakan bahwa Habib Ali bungur adalah seorang Wali Qutub di jamannya dan seorang pemimpin Rohani Islam yang selalu konsiten mengamalkan syariat-syariat Islam .

Ulama – ulama besar betawi banyak belajar kepada Habib Ali Bungur diantaranya seperti KH Abdullah Syafi`i, KH Tohir Rohili, KH Fatullah Harun, KH Hasbialloh, KH Ahmad Zayadi Muhajir, KH Achmad Mursyidi, Syekh KH Muhammad Muhadjirin Amsar Ad-Dary, mu`allim KH M Syafi`i Hadzami dan masih banyak lagi murid-murid beliau yang tersebar di tanah air.

Habib Ali bungur sangat mencintai dan menghormati para ulama shalafus Sholeh hingga beliau mengarang kitab tentang sejarah perjalanan ulama -ulama Hadro maut dari tanah kelahirannya sampai ke indonesia. Kitab tersebut di beri judul Tajul A’ras fi Manaqib Al-Qutub Al-Habib Sholeh bin Abdullah Al-Attas, disamping memuat Manakib shalafus Sholeh juga Kitab tersebut berisi Mutiara – mutiara Tashauf dan Thariqoh Alawiyyah .

Pagi tanggal 16 Feburuari 1976 Habib Ali Bungur menghembuskan Napasnya yang terakhir, Langit Jakarta menjadi mendung tetesan dan linangan air mata mengalir dari murid murid beliau dan rakyat yang sangat mencintai beliau . Ribuan Peziarah berdatangan dari berbagai pelosok nusantara untuk memberikan penghormatan terakhir, Jakarta kehilangan sosok ulama yang menjadi panutan dan guru para ulama di Jakarta.